Haid dan Mengatasi Rasa Nyeri


Haid dan Mengatasi Rasa Nyeri
Apa Itu Haid?
Haid menurut Syeikh Muhamad Kamil Uwaidah dalam kitabnya Fiqih wanita adalah darah yang keluar dari dinding rahim seorang wanita apabila telah mencapai masa baligh. Warna darah haid biasanya hitam pekat dan berbau tidak enak yang keluar dari kemaluan wanita pada waktu-waktu tertentu.
Haid merupakan peristiwa yang telah Allah tetapkan atas kaum wanita keturunan Adam. Disebutkan dalam Shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah radliyallahu ‘anhu,
إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ
“Ini adalah suatu perkara yang ditetapkan Allah atas anak-anak perempuan keturunan Adam.”
Haid pertama kali dialami oleh Hawa, istri Nabi Adam ‘alaihis salam. Ucapan ini dinisbatkan oleh Al-Hafidz Ibnul Hajar dalam Fathul Baari (1/400) kepada al-Hakim dan Ibnul Mundzir dengan sanad shahih dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu, yang berkata, “Sesungguhnya haid yang pertama kali terjadi adalah haid yang menimpa Hawa, setelah ia dikeluarkan dari surga.”
Syariat tidak menetapkan batas minimal dan maksimal masa haid. Ini berpulang kepada kebiasaan wanita masing-masing. Karenanya, masa haid yang dijalani tiap wanita tidak sama, yang paling cepat satu hari satu malam, ada yang tiga belas atau lima belas hari, sedangkan yang umum adalah enam atau tujuh hari.
Jika seorang wanita hamil, maka darah haid tersebut atas izin Allah menjadi makanan bayi yang berada di dalam rahim seorang  wanita, Subhanallah (Maha Suci Allah).
Untuk itulah wanita hamil itu tidak mengalami masa haid, sedangkan saat melahirkan dan menyusui, darah haid tersebut dengan izin Allah, berubah menjadi ASI yang menjadi makanan terbaik bayi. Untuk itulah sangat sedikit sekali kaum wanita yang sedang menyusui bayinya mengalami haid.
Kapan Mulai dan Selesainya Masa Haid?
1. Mulainya haid dapat diketahui dengan keluarnya darah pada waktu-waktu biasa datang haid. Dan warna serta baunya khas, yaitu hitam pekat dan berbau tidak sedap.
2. Adapun masa berakhirnya haid dapat diketahui dengan berhentinya darah, warna kekuning-kuningan dan keruh. Hal dapat dibuktikan dengan salah satu dari dua cara:
a. Kering, yaitu keluar dari rahim dalam keadaan kering. Maksudnya, seseorang memasukkan sesuatu (semacam kapas atau kain lembut) dalam kemaluannya lalu ia mengeluarkannya dan tetap dalam keadaan kering.
b. Cairan putih, yaitu cairan berwarna putih yang keluar dari rahim setelah berhentinya darah haid.
Diriwayatkan dari Maula Aisyah radliyallahu ‘anha,ia berkata, “Para wanita mengutus seseorang kepada Ummul Mukminin Aisyah dengan membawa kain yang berisikan kapas yang terdapat cairan berwarna kekuningan dari darah haid, untuk menanyakan kepadanya tentang bolehnya shalat. Maka Aisyah berkata kepada mereka, “Janganlah terburu-buru hingga kalian melihat cairan putih,” Yang dimasudkannya adalah suci dari haid.” (HR. Malik dan lainnya, hasan lighairihi)
Nyeri Haid dan Cara Meredakannya
Dalam istilah medis, nyeri haid disebut dismenore. Nyeri itu ada yang ringan dan samar-samar, tetapi ada pula yang berat. Bahkan, beberapa wanita sampai pingsan karena tidak kuat menahannya.
Dahulu, dismenore disisihkan sebagai masalah psikologis atau aspek kewanitaan yang tidak dapat dihindari, tetapi sekarang dokter mengetahui bahwa dismenore merupakan kondisi medis yang nyata. Meskipun demikian, penyebabnya yang pasti, masih kurang dimengerti.
Penyebab nyeri haid bisa bermacam-macam, bisa karena suatu proses penyakit (misalnya radang panggul), tumor atau kelainan letak uterus, stres atau kecemasan yang berlebihan. Akan tetapi, penyebab yang tersering nyeri haid diduga karena terjadinya ketidakseimbangan hormonal dan tidak ada hubungan dengan organ reproduksi.
Jika anda cukup sering merasakan nyeri pada saat haid, anda dapat meredakannyanya dengan cara berendam air hangat, campurkan garam mandi atau aromatic.
Selain itu juga konsumsilah susu berkalsium tinggi, dan perbanyak asupan zat besi pada saat menstruasi berlangsung. Jika nyerinya sangat hebat, hitunglah dengan cermat waktu haid Anda, dan siapkan obat penghilang rasa sakit ataupun suplemen yang sesuai. Olahragalah secara teratur karena bermanfaat untuk tubuh Anda. Pilih olah raga ringan seperti joging. Hal tersebut akan membantu melancarkan aliran darah pada otot sekitar rahim sehingga dapat meredakan rasa nyeri. (Yuliana/voa-islam/HK)

Tata Cara Bersuci dari Haid Sesuai Sunnah
Buat remaja putri ABG alias baru baligh. Baligh biasanya ditandai dengan keluarnya darah yang biasanya kita sebut dengan “haid” atau menstruasi, lamanya masa haid pun berbeda-beda, tapi umumnya wanita haid selama 7 hari.
Setelah selesai haid kita diwajibkan bersuci. Sayangnya banyak remaja putri kita bersuci tidak sesuai tuntunan yang telah diajarkan nabi. Mereka beranggapan bahwa mencuci rambut, membasahi seluruh tubuh dengan air dan membersihkan kemaluan dari sisa darah saja sudah cukup. Anggapan ini tidak benar lho…
Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan agama yang ia dapat, terlebih jika sang ibu juga tidak tahu tata cara bersuci yang benar, sehingga tidak dapat mengajarkan kepada remaja putrinya. Tetapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya.

TATA CARANYA:
Setelah selesai dari haid, ambillah kapas lalu lumuri kapas tersebut dengan parfum atau sejenisnya (hindari parfum yang mengandung alcohol agar tidak pedih).
Selanjutnya bersihkan kemaluan dengan kapas yang telah dilumuri parfum agar hilang bau darah,  hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW dari Aisyah RA, bahwa seorang wanita Anshor bertanya kepada Nabi SAW: “Bagaimana aku mandi dari haid? Beliau menjawab: “Ambillah sepotong kapas yang dilumuri dengan minyak wangi lalu bersihkan dengan itu. Ia bertanya lagi, “Bagaimana aku membersihkan dengannya? Beliau menjawab, “Subhanallah, bersihkanlah.”  Aisyah RA mengatakan, “Maka aku menariknya kepadaku lalu aku katakan, “Bersihkanlah bekas darah dengannya.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Kemudian mandi dengan tata cara sebagai berikut:
Menggunakan air bersih
Membaca Bismillah
Membasuh kedua tangan dengan air
Membasuh kemaluan dengan sabun dan sejenisnya
Membasuh kedua tangan sekali lagi dengan sabun dan jenisnya
Berwudhu dan meninggalkan kedua kakinya
Membasuh kepalanya tiga kali dengan air
Membasuh tubuh bagian kanan tiga kali dengan air
Membasuh tubuh bagian kiri tiga kali dengan air
kemudian berdiri dan membasuh kedua kakinya.

Jadi, buat para remaja putri yang telah membaca tata cara di atas, mulailah untuk mengamalkannya setelah bersih dari haid. Semua akan bernilai pahala jika sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi. Semoga bermanfaat. [waroah/voa-islam.com]

Hukum Seputar Wanita Haid
Ditulis oleh Farid Ma’ruf di/pada 14 April 2007
Ustadz saya mau bertanya hukum membaca al-Quran, masuk masjid, dan masalah rambut rontok dalam mandi wajib, bagi wanita yang haid? Mengapa terjadi pro kontra dalam masalah ini?
Nur Ewi
‘alaikumussalam,
Dik Ewi, menurut Imam Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad, haram hukumnya wanita haid membaca Al-Qur`an. Imam Malik membolehkan membaca beberapa ayat. Sedangkan menurut Imam Dawud az-Zahiri, boleh wanita haid membaca al-Quran (ad-Dimasyqi, Rahmatul Ummah, hlm. 18)
Mengapa timbul perbedaan pendapat? Sebab para ulama berbeda dalam menilai hadis dalam masalah ini. Nabi saw. bersabda,”Tidaklah boleh orang junub dan juga wanita haid membaca sedikit pun dari al-Quran.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sebagian ulama menganggap hadis ini dhaif (lemah) sehingga tidak layak menjadi hujjah (alasan) (Kifayatul Akhyar, I/77-79; Subulus Salam, I/88). Sementara itu sebagian ulama lainnya menganggap hadis itu bukan hadis dhaif.
Pendapat yang lebih kuat (rajih), adalah pendapat yang mengharamkan wanita haid membaca al-Quran. Sebab meskipun sebagian ulama melemahkan hadis di atas, namun hadis tersebut dianggap hasan (cukup baik) oleh Imam as-Suyuthi, sehingga layak menjadi dalil (As-Suyuthi, al-Jami’ ash-Shaghir, hlm. 205). Namun, yang diharamkan adalah jika wanita haid itu semata berniat membaca (qira`ah), sebagai amal ibadah. Jika, dia tidak meniatkannya sebagai bacaan ibadah, boleh hukumnya membaca al-Quran. Misalnya, membaca Al-Quran dengan niat berdzikir, memberi nasehat atau berdakwah, menceritakan kisah, atau menghafal ayat. (as-Sayyid al-Bakri, I’anatuth Thalibin, I/69). Hal ini sesuai hadits Nabi,”Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu bergantung pada niat-niatnya.”
Dik Ewi, tentang wanita yang sedang haid masuk masjid, jumhur ulama, yakni Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad, sepakat wanita yang haid tidak boleh berdiam di dalam masjid. Namun Imam Dawud Az-Zahiri membolehkan wanita haid dan orang junub berdiam di masjid (ad-Dimasyqi, Rahmatul Ummah, hlm. 17)
Akar perbedaan pendapat itu karena para ulama berbeda pandangan mengenai hadis Nabi saw. yang berarti, “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita yang haid dan orang junub.” (HR Abu Dawud). Jumhur ulama menganggap hadis ini sahih atau hasan, sehingga mengamalkannya dengan mengharamkan wanita haid masuk dan berdiam di masjid. Namun ada ulama yang tidak menganggapnya sebagai hadis yang layak saebagai hujjah. Karenanya mereka tidak mengamalkannya.
Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur, karena hadis di atas sesungguhnya adalah hadis yang layak menjadi hujjah. Hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah. (Subulus Salam, I/92). Menurut Ibn al-Qaththan, hadis ini hasan (Kifayatul Akhyar, I/80).
Kemudian tentang rambut rontok dan mandi wajib. Dalam mandi wajib, wanita haid diharuskan meratakan air ke seluruh tubuh hingga rambut, termasuk rambut yang rontok sebelum seseorang mandi wajib (Kifayatul Akhyar, I/39; I’natuth Thalibin, I/75). Dalilnya adalah hadis Nabi saw.,”Barangsiapa meninggalkan tempat (selubang) rambut dari mandi janabah yang tidak dibasuh, maka akan diberlakukan begini begini di neraka.” (HR Abu Dawud). Karena itu, rambut termasuk yang harus dibasuh dalam mandi wajib. Termasuk yang rontok sebelum mandi wajib. Kemungkinan perbedaan pendapat bisa saja muncul karena sebab-sebab seperti yang diterangkan di atas. Yaitu karena berbeda penilaian terhadap hadis, atau berbeda dalam memahami pengertian hadis. Wallahu a’lam.[Shiddia al Jawi]
sumber : Majalah Sobat Muda

About zainulhadi

sebuah harapan yang lebih baik dan lebih baik lagi
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s