SHALAT YANG WAJIB DIQODLO’ KARENA HAIDL ATAU NIFAS


SHALAT YANG WAJIB DIQODLO’ KARENA HAIDL ATAU NIFAS

Shalat yang ditinggalkan ketika wanita mengalami haidl atau nifas itu tidak perlu diqodlo’ sebagaimana shalat yang ditinggalkan semasa gila, epilepsi, mabuk yang tidak sengaja, atau pada masa belum baligh, atau ketika sebelum masuk islam(selain murtad), yang kesemuanya disebut ” mani’ussholah” artinya manakala seseorang mengalami hal diatas maka dia tidak wajib shalat juga tidak wajib mengqodlo’nya

Namun demikian bukan berarti orang yang tengah mengalami hal diatas termasuk juga wanita haidl atau nifas bebas secara total, sebab apabila mulai dan berhentinya haidl atau nifas berada di”waktunya shalat” dan dia belum mengerjakannya maka masih ada kemungkinan ada shalat yang harus diqodlo’

*)DATANGNYAMANI’USSHALAH(JA’AL MANI’)
Apabila mulainya haidl atau nifas(datangnya mani’) setelah masuknya waktu shalat,sedangkan dia belum mengerjakannya,padahal mulai masuknya waktu shalat dan datangnya mani’ tersebut cukup waktu dibuau shalat sekaligus bersucinya bagi wanita yang istihadhoh atau beser atau hanya cukup dibuat bagi wanita yang tidak istikhadhoh atau beser maka nanti ketika haidl atau nifas sudah berhenti ,harus qodlo’ shalat waktu tersebut ;
a). Misalkan waktu dzuhur mulai masuk pukul 12:00 kemudian dijam 13:00 seorang wanita mulai haidl atau nifas dan dia belum shalat dzuhur, maka nanti setelah haidl atau nifas berhenti harus qodlo’ shalat dzuhur saja
b). Misalkan waktu ashar mulai masuk pukul 15:00 lalu pada jam 16:00 seseorang mengalami gila,epilepsi, atau hal lain yang menghilangkan akal sehat dengan tanpa disengaja dan dia belum mengerjakan shalat asyar sebelum hilang akalnya tadi,maka nanti setelah sembuh wajib qodlo’ asharnya saja(kalau sampe mahrib belum sadar hingga lewat waktu mahrib,maka cukup asharnya saja )
Akan tetapi jika shalat sebelum datangnya mani’ tadi sudah dikerjakan atau belum dikerjakan namun jarak waktu antara masuknya waktu shalat dan datangnya mani’ tersebut tidak cukup dibuat shalat maka tidak diwajibkan mengqodlo’ shalat waktu tersebut

Hal ini perlu dimengerti mengingat banyak yang menganggap bahwa shalat ketika datangnya “mani’usshalah” dan shalat sebelumnya harus diqodlo’ meskipun sudah dikerjakan,persepsi demikian tidaklah benar. Sebab orang yang mengalami haid,nifas atau yang lain yang diharuskan qodlo’ shalat ketika datangnya mani’usshalah serta shalat sebelumnya itu dengan syarat :
Shalat sebelum datangnya haidl atau nifas (mani’usshalah) tersebut belum dikerjakan lantaran masih ada perkara yang mencegah shalat yang lain seperti gila,epelepsi atau ayan
Shalat sebelum datangnya haidl atau nifas (mani’usshalah) boleh dijamak dengan shalat ketika datangnya haidl atau nifas tersebut.
Setelah selesainya perkara yang mencegah shalat dan sebelum datangnya haidl atau nifas masih cukup dibuat shalat dua kali (shalat ketika datangnya haidl atau nifas dan shalat sebelumnya.)

Misalnya seorang wanita mengalami gila mulai pagi sampai jam 16:00 kemudian pada jam 16:30 sebelum dia sempat mengerjakan shalat ashar, dia mengalami haidl maka nanti setelah nanti haidlnya berhenti dia harus qodlo’ shalat ashar dan shalat dzuhur, sebab shalat dzuhur belum dikerjakan karena ada perkara perkara yang mencegah shalat (gila) dan dzuhur bisa dijamak dengan shalat ashar, serta antara jam 16:00 (sadar dari gila) dan jam 16:30 (datangnya haid) masih cukup dibuat shalat duakali (dzuhur&ashar)
Dan jika dalam waktu tersebut tidak cukup dibuat shala duakali (umpama dalam contog diatas mulai haidlnya jam 16:00 lebih satu menit) maka nanti setelah haidlnya berhenti tidak diwajibkan qodlo’ shalat baik dzuhur maupun ashar

*) BERHENTINYA MANI’USSHALAH (ZALAL MANI’)
Berhenti atau hilangnya perkara yang mencegah shalat yang berkaitan dengan masalah qodlo’ shalat itu terbagi atas dua bagian :

1. Apabila berhenti pada waktunya shalat dzuhur,Maghrib dan subuh, yakni shalat yang tidak bisa dijamak dengan shalat sebelumnya maka wajib mengerjakan shalat diwaktu tersebut
*)  Misalnya darah haidl berhenti pada jam 13:00, maka wajib shalat dzuhur dengan cara ada'(shalat pada waktunya)
*) Misalnya darah haidl berhenti pada waktu dzuhur tinggal satu menit maka harus shalat dzuhur dengan cara qodlo’ karena waktu yang tersisa tidak cukup dibuat bersuci dan shalat satu raka’at
2). Apabila berhenti pada waktunya shalat ashar dan shalat isyak, yakni shalat yang bisa dijamak dengan shalat sebelumnya maka akan wajib mengerjakan shalat waktu tersebut dan juga shalat sebelumnya
*) Misalnya darah haidl berhenti pada jam 8malam, maka wajib shalat isyak dengan cara ada'(pada waktunya) dan qodlo’ shalat maghrib
*) Misalnya darah haidl berhenti pada waktu ashar tinggal satu menit, maka wajib shalat ashar dan dzuhur dengan cara qodlo’ karena waktu yang tersisa tidak cukup untuk bersuci dan shalat satu raka’at

About zainulhadi

sebuah harapan yang lebih baik dan lebih baik lagi
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s